Rabu, 30 September 2015

Dek Amdi Bahagia, Pengusaha Isi Ulang dan Gas

Cicilan Lunas Sebelum Jatuh Tempo

Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB) 2 Oktober 2015  genap berumur 20 tahun. Dalam perjalanan waktu yang cukup panjang, banyak perkembangan dicapai lembaga simpan pinjam syariah ini. Beberapa wiraswastawan pun turut merasakan berkah kemajuan yang dicapai lembaga keuangan berbasis masjid ini. BQB tidak hanya memberikan modal, tapi juga bertanggungjawab memajukan usaha nasabah.

Dek Amdi Bahagia misalnya,  turut merasakan andil besar BQB dalam mengembangkan usaha yang dirintisnya. Pengalamannya sebagai pebisnis pemula, menunggu kios kecil milik keluarga sepulang sekolah sewaktu SLTA, tidak saja perlu nyali menjadi “pengusaha” sebagaimana cita-citanya. Sumber modal, adalah alasan klasik menyurutkan semangat memulai usaha. Ia pun meyakini BQB dapat melempangkan rintisan usahanya. 

“Dengan sikap ramah dan upaya cari informasi, saya memberanikan diri untuk meminjam modal pada Baitul Qiradh Baiturrahman,” kilah Bahagia.

Januari 2008 kali pertama Pimpinan CV Jiranah, Jl T Syarief Thayeb Nomor  3A Lambhuk ini mengajukan pinjaman Rp 5 juta pada BQB Cabang Ulee Kareng, Banda Aceh. Pinjaman dengan jaminan sertifikat tanah itu digunakan sebagai uang muka memulai usaha depot air isi ulang.

Dengan naluri bisnis ia mengambil keputusan pada waktu yang tepat. Dalam tempo singkat, usahanya terus bertambah. Kemudian, dengan memakai label perusahaan yang sama, usaha bisnisnya sebagai agen minyak tanah dan tabung gas elpiji dilakoninya.  Abangnya, Yusriadi sebagai manajer keuangan turut berperan dalam memajukan CV Jiranah ini.

Merasa perekonomiannya makin mapan, pebisnis yang hanya jebolan SLTA ini mengakhiri masa lajangnya tahun 2009. Seorang gadis yang masih tetangganya, Siti Maisarah disunting menjadi isterinya. Dari buah perkawinan itu, lahirlah M Syahruk Malik (4 th) dan M Arif Naqfi (2 th).

Usahanya terus berkembang. Bahkan, ia memberanikan diri menjadi pemasok sayuran segar bagi sebuah super market di pusat kota Banda Aceh. Untuk mempermudah mengangkut pesanan pelanggan, tiga kendaraan jenis pick up dan sebuah becak angkut dibelinya.

“Saya selalu yakin, modal bisanya jadi kendala dapat diatasi dengan adanya Baitul Qiradh Baiturrahman,” kata putra ketiga pasangan HM Yusuf Yacob - Hj Fauziah ini. Dengan armada transportasi multi guna itu, pelanggan merasa dimanjakan dan terpuaskan, karena kebutuhan seperti air isi ulang, tabung gas dan pesanan lainnya dapat diantar ke tempat. 

BQB selama ini memberikan kepercayaan penuh kepada nasabah setia, mumpuni dan amanah. Pinjaman pernah diberikan mencapai Rp 70 juta untuk pengembangan usaha milik Bahagia. 

“Alhamdulillah cicilan berhasil saya lunasi sebelum jatuh tempo,” jelasnya.

Kini pinjaman dengan besaran yang sama diajukan untuk membeli mesin FW, penyaringan membran dan housing sebanyak 2 unit. Berkah terus saja mengalir bagi nasabah setia BQB, semoga. (NA Riya Ison)

Selasa, 15 September 2015

Abdul Mutalib Nasabah Sukses Baitul Qiradh Baiturrahman

ADALAH Abdul Mutalib (35). Sosok nasabah sukses Baitul Qiradh Baiturrahman. Biar pun ia seorang yatim sejak usia 3 bulan, semangatnya untuk mengubah hidup sudah tertanam dalam pribadinya sejak dini. Ia tinggal bersama ibu dan kakak sulungnya, Zubaidah.
Abdul hanyalah lulusan SLTA. Setamat SMA di Meureudu, 1999 langsung mengadu nasib di Banda Aceh. Seorang temannya memiliki toko dan mengajaknya untuk menjadi karyawan.
Sebelum tsunami melanda, Abdul telah mandiri. Ia memiliki tempat berdagang perhiasan imitasi di emperan atau kaki lima di Pasar Aceh. Sampai akhirnya semua usahanya, tersapu tsunami.
Namun tsunami tak mampu menyapu semangatnya. Kali ini, Abdul nama yang biasa dipanggil, mengincar lokasi yang dianggap ramai, di Neusu Jaya. Tahun 2007 ia kembali melirik Pasar Aceh yang telah kembali menjadi pusat perdagangan dan ramai pembeli
Hanya sebentar di Pasar Aceh, usahanya kembali tergusur bersama ratusan pedagang lainnya ke Pasar SMEP Peunayong. Karena keadaan tidak sesuai yang diharapkan, Abdul memilih kembali ke kampung halaman. Modal yang ada dibawa serta. “Saya membangun rumah untuk ibu yang sudah tua,” katanya. Ia tengah berduka, karena belum lama ini ibunya, Sapiah meninggal dunia.
Disebabkan keadaan, tempat usaha Talib selalu berpindah-pindah. Pria kelahiran Meureudu, 5 Januari 1980 ini mendapatkan lokasi strategis di Jl. Chik Pante Kulu tepatnya di Gg. Hongli Pasar Aceh. Di saat inilah ia mulai menjadi mitra dan menangguk manfaat adanya Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB).
Seorang rekan seangkatan semasa SMA, Fikri ternyata adalah seorang karyawan BQB yang berpusat di Komplek Masjid Raya Baiturrahman. Melalui Fikri, ia mendapatkan pinjaman ringan dari BQB. “Saya mendapatkan pinjaman bagi hasil sebesar Rp. 10 juta,” kenang Talib.
Usahanya berkah dan terus berkembang. Nalurinya sebagai pedagang juga melirik ke Pasar Aceh Baru yang mulai dibuka. “Saya meminjam kembali dari Baitul Qiradh Baiturrahman sebanyak Rp. 20 juta untuk tambah modal. Sementara uang pribadi saya pergunakan untuk sewa toko,” tambah suami dari Syukriyah ini.
Usahanya diberi nama “Bang Toyib Mode”, terletak di Lantai 3 Pasar Aceh Baru. “Saat itu begitu ramai pembeli, saya mesti menambah toko,” ujar ayah dari dari Syidran Malisi (4,3 th) dan Siti Zakira (2,2 th) ini. Karenanya ia sempat menyewa beberapa toko yang berdekatan. Usahanya pada setiap toko menjual asesoris perhiasan imitasi. Juga menjual tas dompet, tali pinggang.
Melalui peran BQB Abdul menemukan adanya kemudahan sehingga ia senantiasa bertumpu harapan pada lembaga simpan pinjam berbasis syariah ini. “Baitul Qiradh Baiturrahman mempermudah nasabah dalam proses pengajuan pinjaman. Apabila setoran tertunda tidak dipermasalahkan,” ungkapnya.
Selain itu yang membuatnya terbantu adalah, petugas BQB setia menjemput setoran atau cicilan harian ke nasabah langsung. Namun, ia berharap, “Hendaknya lembaga simpan pinjam ini dapat meringankan bagi hasil agar pedagang kecil lainnya dapat terbantu dalam pengembangan usaha.” Menurutnya, bank konvensional saat ini seolah berlomba menurunkan bunga guna membantu nasabah, khususnya kalangan usaha ekonomi lemah. Seharusnya BQB juga peduli membantu usaha perekonomian umat, tambahnya.
Usahanya kini kembali meredup. Peruntukan setiap lantai Pasar Aceh Baru pada awalnya berdasarkan pengelompokan jenis barang kebutuhan, ternyata belakangan mulai bercampur. Di lantai dasar atau lantai 2 pasar, juga dijual pakaian, assesoris. “Pembeli tentu kerepotan bila mesti melangkah ke lantai 3,” kilah mantan Humas Asosiasi Pedagang Aceh Baru (Aspedab) ini. Seharusnya pengelola pasar bersikap tegas dan kembali menertibkan para pedagang sesuai ketentuan semula. Terlebih, Pasar Aceh Baru II telah hadir guna membagi pembeli untuk berbelanja.
Ia tetap bersyukur karena Bang Toyib Mode tetap eksis. Abdul atau Talib berbelanja langsung ke Tanah Abang Jakarta untuk berburu celana dan pakaian muslim, batik, kemeja maupun sporty yang tengah mode. Demikian juga kios kaki limanya, tetap mendapatkan pelanggan tersendiri.
Sebagai wujud syukur, tetap ia menjalankan kewajiban berzakat, karena sebagian dari hartanya merupakan milik orang lain. NA RIYA ISON

Tulisan ini dimuat di Tabloid Gema Baiturrahman, 11 September 2015, sebagai pariwara 

Selasa, 08 September 2015

Belajar Wirausaha

Oleh Sayed Muhammad Husen 

Awal kisah seorang aktivis belajar wirausaha dengan mengikuti pelatihan dan magang BMT (Baitul Mal Wat Tamwil) di Jakarta. Aktivis Islam ini lebih banyak belajar politik dalam setiap jenjang pelatihan yang diikutinya. Akibatnya, dia menjadi kritikus pemerintah ketika itu. Setiap kebijakan Orba Soeharto yang tak berpihak kepada kepentingan Islam dan ummatnya, tak luput dari hujatannya. Dia membaca banyak buku dan kitab fikih politik.

Dalam pelatihan dan magang BMT itu, dia mendapat data dan informasi yang tak permah dibacanya selama ini. Para pemateri menyajikan kebijakan ekonomi, pengelolaan dana, muamalah Islam, pertarungan kaum mata sipit dalam bisnis, hingga kondisi utang negeri ini pada negara donor. Ada diskusi topik kapitalisme, sosialisme dan konsep ekonomi Islam. Dia seakan “diprovokasi” supaya percaya diri dan yakin potensi ekonomi ummat Islam.

Akhirnya sang aktivis memulai bisnis pengelolaan dana ummat melalui BMT. Mengurangi membaca buku politik dan menggantinya dengan buku ekonomi dan perbankan Islam. Mengikuti pengajian dan kajian muamalah. Mendalami profil Rasulullah Muhammad SAW sebagai pedagang, membaca cerita sukses khadijah RA berbisnis dan ketangguhan Abdurrahman bin Auf mengusai pasar. Dia juga berlangganan media ekonomi dan bisnis.

Satu lagi: sang aktivis berinteraksi dan “belajar” banyak dari pedagang mikro di pasar tradisional. Menggali pengalaman jatuh bangun pedagang sayur-sayuran dan buah-buahan. Menimba pengalaman bangkit pedagang kaki lima. Dia juga memperluas pergaulan atau jaringan dengan konsultan usaha mikro, karyawan perbankan syariah dan koperasi simpan pinjam syariah. Bahkan, dia secara diam-diam mengenali “mafia” produk tertentu di pasar dan keuletan rentenir memengaruhi calon pelanggan.

Akhirnya, setelah perjalanan waktu sekitar tiga tahun, sang aktivis benar-benar menjadi orang ekonomi dari sebelumnya pengagum dunia politik. Dia telah menguasai praktek bisnis sosial micro finance syariah. Dia hidup  --dalam artian-- mendapat gaji sebagai profesional di bidang ini. Dia pun memutuskan menikah, karena yakin telah mampu membiayai keluarga.

Demikian kisah sang aktivis belajar bisnis. Tentu banyak kisah lain, yang kita yakin menjadi inspirasi bagi yang ingin memperbaiki nasib melalui jalur wirausaha. Karena itu, ayo belajar wirausaha dari dunia nyata.  

Tulisan ini dimuat di Gema Baiturrahman, 28 Agustus 2015 

Baitul Qiradh Belajar ke Malaysia

Lembaga Keuangan Syariah Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB) melakukan serangkaian studi banding ke Malaysia untuk menambah ilmu dengan cara belajar langsung dari yayasan atau lembaga keuangan berbasis syariah di negara jiran itu. "Kunjungan BQB ke Malaysia selama tujuh hari mulai 14 sampai 21 September 2012 tersebut, salah satu bentuk kegiatan menambah ilmu pengurus BQB," kata Sekretaris Pengurus BQB, Basri A Bakar, Selasa (25/9/2012) di Banda Aceh.

Basri menjelaskan, kegiatan itu difasilitasi Dewan Pemuda Masjid Malaysia dan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). Selama di negeri jiran, BQB yang terdiri dari pengurus dan pengelola berjumlah 13 orang mengunjungi beberapa lembaga seperti Yayasan Pembangunan Ekonomi Islam Malaysia (YaPEIM), Lembaga Pegadaian Emas Ar Rahnu, Amanah Ikhtiar Malaysia (AIM), JAKIM dan Institut Latihan Islam Malaysia (ILIM).

Rombongan juga sempat berkunjung ke beberapa masjid ternama seperti Masjid Putra Jaya, Masjid Tuanku Zainal, Masjid Negara dan Masjid Wilayah, termasuk beberapa masjid di Singapura. Mewakili pengurus ikut hadir Ketua Zardan Araby dan Sekretaris Basri A Bakar.

Sementara Direktur BQB, Maulida Lailiana mengharapkan, dengan adanya kunjungan tersebut dapat memberikan motivasi dan meningkatkan kinerja karyawan BQB.

Dikatakannya, BQB sudah lama berdiri yakni sejak tahun 1995, namun baru kali ini bisa melakukan studi banding ke luar negeri. "Kami memperoleh wawasan yang ilmu cukup bermanfaat dari lembaga yang kami kunjungi, semoga dapat diadopsi bagi kemajuan BQB di masa mendatang," ujarnya.

Ia menyatakan, dari hasil kunjungan tersebut, beberapa lembaga seperti YaPEIM dan AIM sepakat akan menjalin kerja sama di bidang pengembangan ekonomi syariah, termasuk JAKIM dalam bentuk training manajemen dan ekonomi Islam.

"Mereka berjanji akan melakukan kunjungan balasan ke Aceh dalam waktu dekat sambil menjajaki peluang kerja sama," sebutnya.

Saat ini, BQB memiliki satu kantor induk bertempat di komplek Masjid Raya Baiturrahman dan dua kantor cabang masing-masing di Ulee Kareng dan Sukadamai, dengan kegiatan simpan pinjam sistem bagi hasil berbasis syariah, kepada masyarakat ekonomi menengah ke bawah.(dedi irawan)

Sumber: http://medanbisnisdaily.com/news/arsip/read/2012/09/26/92703/baitul_qiradh_baiturrahman_belajar_manajemen_ke_malaysia/#.VcrWLlJiQdo

Tiga Keunggulan Baitul Qiradh Baiturrahman

Oleh Sayed Muhammad Husen

Saya merasakan dinamika perjalanan usia Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB) sejak awal operasional, 2 Oktober 1995. Saya juga merasakan “dukungan” Allah swt terhadap lembaga keuangan mikro syariah ini. Betapa tidak, dari 73 BQ yang pernah terbentuk tahun 1997 hanya dapat bertahan tidak sampai 30%. Setelah digasak tsunami pun dapat bangkik dengan sempurna. Mungkin salah satu alasannya karena BQ ini “bermarkas” di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. “Baitullah” kebanggaan rakyat Aceh.

Letak atau lokasi kantor BQ di Masjid Raya Baiturahman adalah keunggulan pertama. Masyarakat beranggapan, pengelola BQB adalah sekaligus pengurus masjid. BQB identik dengan masjid. Mereka meyakini, miniatur bank Islam ini dikelola dengan amanah. Dana yang mereka simpan sebagai tabungan tak akan hilang. Tak ada korupsi. Akibatnya, lahirlah kepercayaan masyarakat terhadap manajemen BQB.

Demikian pula pihak manajemen, mereka menjaga idialisme dengan baik, karena mereka memang bekerja di lingkungan masjid. Lokasi mana lagi tidak melakukan maksiat selain di masjid. Prilaku pengurus dan pengelola lebih terkontrol. Ibadah mereka, misalnya shalat berjamaah dhuhur dan ashar lebih disiplin dan berjamaah. Mereka pun tahu, bekerja di masjid tak mungkin mengejar cepat kaya.

Keunggulan kedua, BQB adalah generasi pertama BQ di Aceh. Diresmikan bersamaan 50 BQ lainnya se Aceh oleh Prof DR BJ Habibie dalam kapasitas sebagai Menristek dan Ketua Umum ICMI Pusat. Sebagian besar pengelola BQ se Aceh belajar dan magang di BQ ini. BQB juga menjadi referensi bagi banyak kalangan di Aceh yang peduli terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat. Banyak pula yang memberi harapan terhadap eksistensi amal usaha masjid ini.

Ketiga, semua personil pengelola bisa bertahan dan tetap bekerja hingga memasuki usia BQB tahun ke 14. Dengan kesabaran itu, mereka menjadi direktur dan kepala-kepala cabang. Mereka benar-benar telah berpengalaman di bidang micro finance. Merasakan masa-masa sulit dan dapat pula menikmati era kemapanan lembaga keuangan bentukan ICMI ini. Mereka menjadi asset SDM BQB.

Dengan keunggulan itu, BQB berhasil mendapatkan “lirikan” banyak pihak untuk bermitra. Hal ini dapat dibuktikan dari pihak-pihak yang telah membantu dan bekerja sama dengan BQB, dari lembaga pemerintah hingga lembaga internasional. Saya sebutkan di sini misalnya: Dinas Koperasi, Baznas, ILO, PT Bisma, PT PNM, GTZ, Bank Muamalat, MercyCorp, PT PLN, PT Taspen, PT Pertamina dan beberapa yang lain.

Tantangan BQB berikutnya adalah, mampukah LKM Mikro Syariah ini menghadapi tantangan zaman? Karena itu, nasihat saya: teruslah memperkuat SDM pengelola, menambah modal jumlah sendiri, memantapkan sektor riil dan menjaga efesiensi. Jangan mubazir. Tidak serakah. Jangan pula ria akibat kesuksesaan. Tidak melupakan misi utama BQ sebagai pemberdaya ekonomi ummat.

Sebagai salah seorang pendiri, sungguh, saya tak ingin melihat BQB terjebak dalam skenario saitan, yang senantiasa menggoda kita supaya maksiat dalam bermuamalah. Semoga Allah swt meridhai amal sosil kita ini. Amien ya Rabb.

Ada Kerja Ada Makan

Gema Baiturrahman, Edisi Jum’at, 13 Februari 2015

Zainuddin Hasbi, Nasabah Sukses Baitul Qiradh Baiturrahman
Oleh NA Riya Ison

Menjadi pengusaha adalah cita-citanya sewaktu kecil, bahkan statusnya sebagai pegawai negeri sipil pada Kantor Pos Banda Aceh sejak tahun 1981 ini tak membuatnya bergeming untuk menunaikan keinginannya tersebut. Titel ‘pengusaha’ justru baru terpenuhi setelah Zainuddin Hasbi sudah memasuki kepala lima.
Seharusnya suami Hj Rosnina A. Wahab ini memasuki pensiun pada 2012 lalu. Tapi keinginan menjadi saudagar begitu menggelitiknya. Apalagi penghasilannya sebagai abdi negara tidak mampu memberikan sebuah rumah pribadi atau kendaraan bagi keluarganya.

Maka, pada 2003 lalu setelah melalui proses panjang pria kelahiran Pango Banda Aceh, 11 Maret 1956 barulah diperkenankan pensiun dini. Namun ayah 5 putra-putri ini menutup rapat status pensiunan. “Jelas banyak yang menentang keberanian dan menyayangkan sikap saya berhenti sebagai pegawai negeri sipil,” katanya, beralasan. Hak Pak Din, demikian biasa dipanggil, berupa uang pensiun mencapai Rp 150 juta digunakan sebagai modal usaha menjual berbagai jenis dan merek sepatu, sandal, tas, dompet khusus bagi perempuan.

Pensiun dini mengispirasinya menamakan tokonya “Usaha Dini”. Toko miliknya ini terletak di Blok C No. 101 Suzuya Shopping Center di pusat Kota Banda Aceh. Setahun setelah usahanya lancar, barulah ia bermitra dengan pembiayaan dari lembaga keuangan syariah, Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB) Cabang Ulee Kareng. “Pinjaman pertama saya pada Baitul Qiradh Baiturrahman sebesar Rp. 5 juta dan dapat dilunasi beberapa bulan sebelum jatuh tempo,” jelasnya.

Pihak manajemen BQB menilai kejujuran dan kesungguhan pengusaha yang hanya tamatan SMP ini dalam menyelesaikan pinjaman. “Pak Zainuddin menyetor cicilan pinjaman setiap hari,” ungkap Maulida Lailiana, Manajer Cabang BQB Ulee Kareng saat ini. Sehingga saat Pak Din mengajukan kredit Rp. 100 juta untuk tambahan modal usaha, unsur pimpinan lembaga bermoto memberdayakan ekonomi umat yang berkantor pusat di Masjid Raya Baiturrahman ini memberikan pinjaman. Uang sebesar itu yang seharusnya dilunasi dalam masa 20 bulan juga dapat dilunasi beberapa bulan sebelum batas kesepakatan.

Ada pesan moral yang ditujukan bagi para pedagang atau pengusaha lainnya. “Berniagalah dengan jujur dan melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Jangan lupa, bayarlah zakat untuk mendapatkan keberkahan”, tambahnya.

Kini Zainuddin telah menambah toko dengan label yang sama, ‘Toko Usaha Dini’ di Blok B No. 100 di pusat perbelanjaan yang sama, tak jauh dari tokonya terdahulu. Kedua tempat usaha itu dikelola ketiga anaknya yang telah dewasa, Mursal, Irvan dan Irwandi dibantu 3 karyawan lainnya. “Saya datang setiap hari untuk mengontrol toko sebentar setelah Shalat Ashar. Bila Jum’at saya fokuskan untuk ibadah dan mengikuti kegiatan dakwah” kata warga Lam Ujung Krueng Barona Jaya, Aceh Besar ini. Sistem penggajian bagi karyawan berdasarkan laba per hari dengan besaran antara Rp. 80 ribu sampai dengan Rp. 150 ribu yang dibayarkan setiap sorenya. “Saya menerapkan sistem AKAM, ada kerja ada makan,” imbuhnya.

Dari berjualan dan bermitra dengan BQB Cabang Ulee Kareng juga, ia merasa bersyukur karena dapat memenuhi hasratnya sebagai kepala keluarga memiliki rumah pribadi dan beberapa roda 2 dan roda 4. Bahkan pada 2010, ia bersama isteri tercinta dapat melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Saya pun dapat berzakat tepat waktu dan bersedekah dengan nyaman, pungkas Pak Din.

Perkembangan Baitul Qiradh Baiturrahman

Oleh Sayed Muhammad Husen


Gerakan awal Baitul Mal Wattamwil (BMT) yang di Aceh dikenal dengan Baitul Qiradh (BQ) berangkat dari kegelisahan aktivis Islam terhadap kualitas umat Islam di Indonesia. Betapa tidak, umat mayoritas di negeri ini sebagian besar tidak taat dalam mengamalkan ajaran Islam dan tidak memiliki akses terhadap modal usaha dari perbankan. Umumnya kualitas sumber daya manusi umat Islam rendah dan hidup di bawah garis kemiskinan. Pada sisi lain, umat Islam Indonesia belum dapat mengamalkan ajaran Islam dengan baik akibat praktek perbankan sistem ribawi.

Umat Islam Indonesia mendapatkan momentum dengan diresmikannya Bank Muamalat Indonesia,1992, sebuah bank yang beroperasi dengan sistem syariah. Kekuasaan Soeharto pun (waktu itu) memberi dukungan penuh terhadap hadirnya bank yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini. Momentum ini pula menjadi pendorong tumbuhnya BMT sebagai lembaga keuangan umat yang memfasilitasi pemberdayaan ekonomi umat di lapisan bawah. Sebelumnya, BMT masih bersifat “informal”, yang dirintis sejak 1982 dengan nama Baituttamwil Teknosa di Bandung. 

BMT memberdayakan umat dengan dua cara: pertama, meningkatkan pemahaman terhadap ajaran Islam. Umat diorganisir untuk mengikuti pengajian rutin yang dibimbing oleh ustaz/murabbi. Materi yang disajikan mencakup pengetahuan dasar keislaman, aqidah dan  ibadah. Selanjutnya diperluas dengan pengetahuan tentang muamalah (sosial ekonomi dan kemasyarakatan). Kelompok diarahkan untuk mengaktualisasikan semangat solidaritas yang telah mulai tumbuh, maka diaktifkanlah kegiatan simpan pinjam. Tentu, kegiatan ini mengacu pada prinsip-prinsip ekonomi syariah seperti mudharabah (bagi hasil),  (jual beli) dan qardhul hasan (pinjaman kebajikan).

Merambah Aceh

Suatu hari, saya dan Drs Sayuthi Sulaiman sedang berada di Studio Radio Swasta Rhodisko Banda Aceh mendapat telepon dari M Nur A Birton (staf Pinbuk Pusat) di Jakarta. Dia mengatakan, dalam waktu dekat akan ada pelatihan pengelola BMT di Jakarta. Dia menyebut nama Ir HM Hamzah Hasan dan Prof Jamaluddin Ahmad sebagai kontak person yang dapat dihubungi di Aceh untuk mencari peluang bisa ikut menjadi peserta dari Aceh.

Lalu, kami berdua membuat proposal pendirian BMT di Banda Aceh dan menghubungi kedua kontak person dimaksud. Saya mengusulkan seorang teman yang sama-sama mengajar di TPA Aisyiyah, Nora Faulina, untuk dimasukkan dalam proposal sebagai calon pengelola, karena kami berdua berlatar-belakang pendidikan keguruan dan syariah, sementara Nora Faulina berpendidikan perbankan. “Kita akan dirikan miniatur bank Islam, maka perlu kawan yang tahu ilmu perbankan,” kaya saya, meyakinkan Sayuthi.
Saya, Sayuthi dan 30-an teman-teman se Aceh berkesempatan mengikuti Pelatihan dan Magang Pengelola BMT selama dua minggu (akhir Mei hingga awal Juni 1995) di Jakarta. Kegiatan ini difasilitasi oleh Yayasan Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) dan Taman Iskandar Muda. Pinbuk adalah badan otonom di bawah ICMI yang dibentuk khusus untuk mengembangkan BMT di seluruh Indonesia. Saya dan 12 teman dari Banda Aceh dan Aceh Besar dibiayai oleh ICMI Aceh, sementara teman-teman lain dibantu oleh ICMI Kabupaten/Kota se Aceh.

Sepulangnya dari pelatihan dan magang, kami diberi kesempatan presentasi tentang BMT di hadapan Gubernur Aceh yang juga Ketua ICMI Aceh, Prof DR Syamsuddin Mahmud, di Anjong Mon Mata Banda Aceh. Hal menarik, malam itu kami sempat menyanyikan Mars BMT dihadapan para undangan yang hadir. Sebuah tekad pun lahir untuk menggerakkan pembentukan BMT di seluruh Aceh. Tak ada pengurus ICMI Aceh yang tidak memberi dukungan. Mereka yakin, inilah salah satu solusi pemberdayaan ekonomi rakyat Aceh.

Tentang pilihan nama BQ dan bukan BMT, rupanya mengacu kepada saran Tgk H Nasiruddin Daud dalam lokakarya Inshafuddin di Meulaboh. Ketika itu, para ulama menyatakan istilah qiradh sudah dikenal lama dalam kajian fikih di Aceh. Dengan menggunakan nama BQ diyakini akan memudahkan dalam proses sosialisasi di tengah-tengah masyarakat.

Masuk Baiturrahman

Tanpa sepengetahuan kami yang sedang ikut pelatihan dan magang, Pengurus ICMI Aceh telah merencanakan pendirian BMT di beberapa lokasi, terutama di masjid-masjid kecamatan. Saya dan Sayuthi yang semula satu tim dipencar oleh ICMI ke lokasi yang berbeda. Saya diminta mengorganisir pembentukan BQ di Masjid Raya Baiturrahman dan Sayuthi di Masjid Abu Indrapuri Aceh Besar. Padahal, semula dalam proposal kami rencanakan lokasinya di lantai dua Toko Buku Amanah Jalan Mohd Jam Banda Aceh. Informasi pembagian tugas itu kami ketahui pada hari-hari terakhir pelatihan dan magang.

Dari informasi itu, saya mereka-reka siapa yang paling cocok menjadi Ketua Pengurus BQB. Semula saya “mengantongi” nama H Imam Syuja’ sebagai orang yang paling tepat. Dia aktivis Islam, tokoh, sekaligus seorang pengusaha. Lalu, saya mendapat kabar bahwa Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman, Tgk H Soufyan Hamzah, pada awalnya kurang berkenan terhadap rencana ICMI membentuk BQB di Masjid Raya Baiturrahman. ICMI pun mengubah langkah taktis dengan menjadikan Soufyan Hamzah sebagai salah seorang yang dimandatkan oleh ICMI bersama Prof Abidin Hasyim MSc untuk membentuk BQ di masjid kebanggaan rakyat Aceh itu.

Saya pun berupaya “menyesuaikan” diri dengan langkah ICMI dengan cara mengusulkan nama calon Ketua Pengurus yang relatif bisa diterima oleh Soufyan Hamzah. Maka muncullah nama Ir H M Zardan Araby MBA, dosen Fakultas Teknik Sipil Unsyiah, Ketua Pemuda Muhammadiyah Aceh dan salah famili dekat Soufyan Hamzah. Zardan figur yang senangi Soufyan. “Saya melihat Zardan punya potensi menjadi intelektual muslim yang sukses, dia dosen, mau belajar agama dan sekaligus pengusaha,” katanya.

Selanjutnya, saya melakukan silaturrahmi dengan Soufyan Hamzah. Beliau mengarahkan supaya saya mengkoordinasikan segala sesuatu yang diperlukan dengan Sekretaris Masjid Raya Baiturrahman, Drs H Ridwan Johan. Berikutnya, saya, Ridwan Johan, Zardan Araby, dan Nora Faulina mempersiapkan acara rapat pembetukan BQB. Para aghnia kami undang untuk mengikuti rapat dan presentasi BQ sebagai miniatur bank Islam. Di atas kertas malam itu kerkumpul dana Rp 16 juta, Rp 10 juta di antaranya dari kas Masjid Raya Baiturrahman.  

Rapat berhasil menyepakati formatur pembentukan BQB yang terdiri dari Hasballah (Camat Baiturrahman), Ramli HTA (Tokos Emas), Saiful (Rumah Makan Aceh Spesifik), Ridwan Johan (Masjid Raya Baiturrahman) dan Sayed Muhammad Husen (alumni pelatihan BMT). Selanjutnya kami menyusun komposisi Pengurus dan Pengelola BQB periode empat tahun pertama:

Pengurus
Ketua              : Ir. H. M. Zardan Arabi, BA
Wakil               : Drs. Mahlil Idham
Sekretaris        : Drs. H. Ridwan Johan
Wakil               : Murizal Hamzah (non aktif)
Bendahara       : Ir. H. Basri A. Bakar, Msi

Pengelola
Manajer Utama           : Sayed Muhammad Husen
Staf                             : Nora Faulina Murdani, SE
                                      Aiyub Syah, SE (non aktif)

Mulai Operasional

Pada 8 Juli 1995 Menristek Prof DR BJ Habibie meresmikan BQB bersamaan 49 BQ lainnya seluruh Aceh di Masjid Raya Baiturrahman. Habbie menyerahkan modal usaha Rp 1 juta tiap BQ. Peresmian itu bertepatan dengan berlangsungnya Muktamar Muhammadiyah Ke 43 di Banda Aceh. Dengan uang cash Rp 2 juta, kami memberanikan diri memulai operasi BQB pada 2 Oktober 1995. Bulan pertama operasinal kami hanya memasarkan produk simpanan, baru pada bulan kedua menyalurkan pembiayaan.

Masalah utama awal-awal operasional adalah bagaimana menerapkan ilmu “perbankan syariah mikro” yang telah didapat dari pelatihan dan magang. Saya harus mentransfer ilmu itu kepada staf, sebab baru saya sendiri yang telah pelatihan. Baru kemudian pada pertengahan 2006 Nora Faulina mengikuti pelatihan pengelola BQ yang diselenggarakan HMI Badko Aceh di Asrama Haji Banda Aceh. 

Masalah lain, BQM belum memiliki tenaga dan sistem akuntansi. Untuk itu, Ketua Pinbuk Aceh, Prof DR Jamaluddin Ahmad, merekomendir Maulida Lailiana SE Ak menjadi salah seorang pengelola BQB. Lalu, Maulida magang di Koperasi Jasa Audit Banda Aceh. Koperasi ini juga membantu membuat sistem akuntanasi BQB.  

Adupun produk Simpanan BQB yaitu: Simpanan Mudharabah, Simpanan Pendidikan, Simpanan Qurban, Simpanan Idul Fitri, Simpanan Walimah, dan Simpanan Haji. Produk Pembiayaan: Pembiayaan Murabahah, Pembiayan Mudharabah, Pembiayaan Musyarakah dan Pembiayaan Al-Ijarah. Hingga tahun 2000 asset BQB Rp 250 juta.

Dukungan utama terhadap keberadaan BQB dari jamaah Masjid Raya Baiturrahman. Karena lokasi yang strategis di pusat kota dan berdekatan dengan pusat pasar, sangat mudah bagi jamaah untuk menyimpan atau meminjam modal usaha. Dalam hal sosialiasi, kami peroleh dari Tabloid Gema Baiturrahman (media masjid) dan penceramah halaqah maghrib dan subuh di Masjid Raya Baiturrahman yang  disiarkan langsung oleh Radio Baiturrahman. Para penceramah menyampaikan konsep-konsep ekonomi syariah dan anjuran menjadi nasabah/anggota BQB.

Dua tahu pertama operasional BQB, saya  mengintensifkan silaturrahmi dan komunikasi dengan para tokoh, aktivis, mahasiswa, media, pengusaha, da’i, Ormas dan OKP Islam, anggota DPRA/DPRK, parpol, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendapatkan mendukungan terhadap keberadaan BQB. Hampir seluruh aktivis LDK (lembaga dakwah kampus) membuka rekening di BQB. Kami juga mendapat suntikan modal  dari tiga BUMN: PT Taspen, Pertamina dan PLN, mencapai Rp 110 juta.

Pada 2001 BQB telah berbadan hukum koperasi syariah. Sebelumnya hanya mengandalkan izin operasional dari Pinbuk. Badan hukum ini kami urus karena dorongan dari tokoh ICMI yang menjadi Menteri Koprasi dan UKM, Adi Sasono. Tahun  itu  pula saya mengundurkan diri sebagai Manajer Utama dalam rapat besar periode pertama. Saya minta posisi sebagai “konsultan”, tapi akhirnya saya diberi amanah menjabat Wakil Sekretaris. Jabatan Manajer Utama diserakan kepada Nora Faulina Murdani.

Hingga menjelang tsunami 26 Desember 2004 BQB dapat membukukan asset Rp 350 juta. Pengelola empat orang: Nora Faulina SE (perbankan) jadi karyawan sejak 1995, Lailiana SE (akuntan) sejak 1996, Nur Fajri Fahmi SE (perbankan) sejak 1997 dan Dra Nurmi Hasan (syariah) sejak 1998. Simpanan anggota Rp 155 juta (1.316 orang), pembiayaan Rp 109 juta (350 orang).

Allah SWT menguji hamba-Nya dengan tsunami, akibatnya semua inventaris dan administrasi BQB tenggelam dan hancur. Uang di brankas Rp 10,5 juta dijarah. 60% nasabah pembiayaan hilang. Sementara asset yang selamat di rekening bank Rp 32,3 juta.

Bangkit PascaTsunami

Menurut Nora Fauilina, pada Januari 2005 pihaknya hanya dapat menjalin komunikasi telepon antara pengelola dan pengurus, sebab pada umumnya mereka mengungsi sampai ke Medan. Bulan Januari Masjid Raya Baiturrahman juga belum menyelenggarakan shalat Jumat. Baru pada minggu ketiga Januari, mulai ada komunikasi tentang upaya menghidupkan kembali BQB dengan PNM Medan dan Pinbuk Pusat.

Pada minggu kedua Pebruari 2005, PNM menghubungkan BQB dengan BAZNAS untuk ikut serta dalam program revitalisasi ekonomi Aceh pasca tsunami. Minggu terakhir Pebruari, BAZNAS menyatakan komitmen untuk menyertakan modal pada BQB Rp 605 juta.

Selanjutnya, Nora Faulina dari BQB bersama dua BQ lainnya dari Aceh mengikuti pelatihan dan magang BMT di Jakarta. Minggu pertama Maret 2005 dapat dilakukan renovasi kantor BQB atas fasilitasi BAZNAS. Pada 10 Maret 2005 BQB dapat beroperasi kembali secara normal dan 17 Maret 2004 Hj Mufida Jusuf Kalla meresmikan kembali BQB.

Menurut Ketua Pengurus BQB, M Zardan Araby, hal-hal yang mendukung kelancaran operasional kembali BQB, pertama, kerena semua pengurus dan pengelola masih ada (tidak hilang dalam tsunami). Tidak terjadi rush dan malah simpanan terus bertambah.  Juga, karena keunggulan lokasi kantor yaitu di komplek masjid kebanggaan rakyat Aceh. “Masalah juga ada, masyarakat menganggap penyertaan dana BAZNAS sebagai hibah, sehingga menyulitkan kita dalam penagihan,” katanya.

Beberapa kegiatan kemitraan dalam upaya memperkuat kelembagaan BQB pasca tsunami, yaitu: menjadi salah satu pilot proyek microfinance BRR; ikut serta dalam Program Pembiayaan Produktif PKPS BBM Kementrian Koperasi 2005; adanya penyertaan modal kerja dan pembukaan tiga kantor cabang oleh ILO (International Labour Organitation); mendapatkan pinjaman tanpa bagi hasil dari ICED dan ARF (NGO lokal); penempatan deposito PT. BISMA dan membuka loket resmi pembayaran rekening listrik PLN Cabang Banda Aceh.

Selain itu, BQB menerima penempatan dana BRR Rp 3 milyar; PKPS BBM Rp 500 juta; ICED dan ARF Rp 250 juta; ILO Rp 545,9 juta dan deposito PT Bisma Rp 325 juta. “Untuk tahun 2009 kita memang tak bisa mengandalkan lagi dana murah dan hibah, kami harus proaktif mencari dana komersial,” kata Nora Faulina.

Sebagai upaya penguatan kelembagaan dan sumber daya manusia BQB melakukan pelatihan dan pemegangan staf bekerja kerjasama dengan, antara lain, Juni 2006 ILO memfasilitasi empat orang karyawan magang pada Kospin Jasa Pekalongan selama satu  bulan. Agustus 2006  Training Loan Officer dan Training Manajemen Kredit Bermasalah oleh MercyCorps. Pada Oktober 2006: Training Analisa Keuangan untuk Lembaga Keuangan Mikro oleh MercyCorps.

Selanjutnya pada Nopember 2006: BQB mengikuti Training Analisa Kredit untuk LKM oleh MercyCorps. Maret 2007: Training Penyelesaian Kredit Bermasalah oleh MercyCorps. Maret 2007 Pelatihan Calestial Manajemen oleh Bank Muamalat. Juli 2007: Workshop Gender dan Koperasi bagi seluruh karyawan BQB oleh ILO dan Oktober 2007 Workshop Bisplan BQB oleh ILO.

Dari data April 2008, BQB telah membukukan asset Rp 9,7 milyar dengan tenaga pengelola/karyawan 15 orang, pengurus 3 orang, pengawas 2 orang, simpanan nasabah/anggota Rp 3 milyar (2.719 orang), pembiayaan Rp 4,9 milyar (675 orang) dengan  satu kantor pusat di Masjid Raya Baiturrahman dan tiga kantor cabang masing-masing cabang  Meuraxa (diresmikan 2 Pebruari 2006), cabang Ulee Kareng (diresmikan 2 Juli 2006)  dan  cabang Jeulingke (diresmikan 28 Juli 2006). Laba tahun 2007 Rp 250 juta.

Semoga memasuki usia tahun ke 14 lembaga keuangan mikro syariah ini, dapat menghadapi tantangan yang lebih berat. Para pendiri, pengurus, pengawas,  dan pengelola seharusnya tetap kreatif dalam merespon berbagai tantangan dan permasalahan yang muncul, teruma dalam meningkatkan jumlah modal sendiri, memantapkan kelembagaan, penguatan SDM dan terus berupaya untuk menambah asset. “Kami juga ditantang untuk punya sektor ril dan gedung sendiri,” kata Ridwan Johan.

Pengurus Masjid Raya Baiturrahman sebagai “pemegang saham mayoritas” sepatutnya lebih konkret lagi memberi dukungan, misalnya, dengan menempatkan sebagian kas masjid di rekening BQB. Semoga semua kita ikut bangga karena masjid kebanggan rakyat Aceh telah memiliki satu lembaga keuangan syariah yang mapan. Percayalah BQB akan menjadi inspirasi bagi masjid lain di negeri ini.

Satu hal menjadi catatan penting bagi pengurus dan pengelola BQB supaya tidak melupakan visi awal BQ sebagai lembaga yang terpadu dalam peran sosial, dakwah, pemberdayaan ekonomi. Karena itu, antara kegiatan simpan pinjam, penggalangan ZIS (zakat, infak dan sedekah) dan penyadaran masyarakat terhadap pentingnya praktek ekonomi syariah haruslah dilakukan dengan seimbang. Celakah jika BQB dan BQ lainnya di Aceh hanya mencari keuntungan semata-mata.