ADALAH Abdul Mutalib
(35). Sosok nasabah sukses Baitul Qiradh Baiturrahman. Biar pun ia seorang
yatim sejak usia 3 bulan, semangatnya untuk mengubah hidup sudah tertanam dalam
pribadinya sejak dini. Ia tinggal bersama ibu dan kakak sulungnya, Zubaidah.
Abdul hanyalah lulusan
SLTA. Setamat SMA di Meureudu, 1999 langsung mengadu nasib di Banda Aceh.
Seorang temannya memiliki toko dan mengajaknya untuk menjadi karyawan.
Sebelum tsunami
melanda, Abdul telah mandiri. Ia memiliki tempat berdagang perhiasan imitasi di
emperan atau kaki lima di Pasar Aceh. Sampai akhirnya semua usahanya, tersapu
tsunami.
Namun tsunami tak
mampu menyapu semangatnya. Kali ini, Abdul nama yang biasa dipanggil, mengincar
lokasi yang dianggap ramai, di Neusu Jaya. Tahun 2007 ia kembali melirik Pasar
Aceh yang telah kembali menjadi pusat perdagangan dan ramai pembeli
Hanya sebentar di
Pasar Aceh, usahanya kembali tergusur bersama ratusan pedagang lainnya ke Pasar
SMEP Peunayong. Karena keadaan tidak sesuai yang diharapkan, Abdul memilih kembali
ke kampung halaman. Modal yang ada dibawa serta. “Saya membangun rumah untuk
ibu yang sudah tua,” katanya. Ia tengah berduka, karena belum lama ini ibunya,
Sapiah meninggal dunia.
Disebabkan keadaan,
tempat usaha Talib selalu berpindah-pindah. Pria kelahiran Meureudu, 5 Januari
1980 ini mendapatkan lokasi strategis di Jl. Chik Pante Kulu tepatnya di Gg.
Hongli Pasar Aceh. Di saat inilah ia mulai menjadi mitra dan menangguk manfaat
adanya Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB).
Seorang rekan
seangkatan semasa SMA, Fikri ternyata adalah seorang karyawan BQB yang berpusat
di Komplek Masjid Raya Baiturrahman. Melalui Fikri, ia mendapatkan pinjaman
ringan dari BQB. “Saya mendapatkan pinjaman bagi hasil sebesar Rp. 10 juta,”
kenang Talib.
Usahanya berkah dan
terus berkembang. Nalurinya sebagai pedagang juga melirik ke Pasar Aceh Baru
yang mulai dibuka. “Saya meminjam kembali dari Baitul Qiradh Baiturrahman
sebanyak Rp. 20 juta untuk tambah modal. Sementara uang pribadi saya pergunakan
untuk sewa toko,” tambah suami dari Syukriyah ini.
Usahanya diberi nama
“Bang Toyib Mode”, terletak di Lantai 3 Pasar Aceh Baru. “Saat itu begitu ramai
pembeli, saya mesti menambah toko,” ujar ayah dari dari Syidran Malisi (4,3 th)
dan Siti Zakira (2,2 th) ini. Karenanya ia sempat menyewa beberapa toko yang
berdekatan. Usahanya pada setiap toko menjual asesoris perhiasan imitasi. Juga
menjual tas dompet, tali pinggang.
Melalui peran BQB
Abdul menemukan adanya kemudahan sehingga ia senantiasa bertumpu harapan pada
lembaga simpan pinjam berbasis syariah ini. “Baitul Qiradh Baiturrahman
mempermudah nasabah dalam proses pengajuan pinjaman. Apabila setoran tertunda
tidak dipermasalahkan,” ungkapnya.
Selain itu yang
membuatnya terbantu adalah, petugas BQB setia menjemput setoran atau cicilan harian
ke nasabah langsung. Namun, ia berharap, “Hendaknya lembaga simpan pinjam ini
dapat meringankan bagi hasil agar pedagang kecil lainnya dapat terbantu dalam
pengembangan usaha.” Menurutnya, bank konvensional saat ini seolah berlomba
menurunkan bunga guna membantu nasabah, khususnya kalangan usaha ekonomi lemah.
Seharusnya BQB juga peduli membantu usaha perekonomian umat, tambahnya.
Usahanya kini kembali
meredup. Peruntukan setiap lantai Pasar Aceh Baru pada awalnya berdasarkan
pengelompokan jenis barang kebutuhan, ternyata belakangan mulai bercampur. Di
lantai dasar atau lantai 2 pasar, juga dijual pakaian, assesoris. “Pembeli
tentu kerepotan bila mesti melangkah ke lantai 3,” kilah mantan Humas Asosiasi
Pedagang Aceh Baru (Aspedab) ini. Seharusnya pengelola pasar bersikap tegas dan
kembali menertibkan para pedagang sesuai ketentuan semula. Terlebih, Pasar Aceh
Baru II telah hadir guna membagi pembeli untuk berbelanja.
Ia tetap bersyukur
karena Bang Toyib Mode tetap eksis. Abdul atau Talib berbelanja langsung ke
Tanah Abang Jakarta untuk berburu celana dan pakaian muslim, batik, kemeja
maupun sporty yang tengah mode. Demikian juga kios kaki limanya, tetap
mendapatkan pelanggan tersendiri.
Sebagai wujud syukur,
tetap ia menjalankan kewajiban berzakat, karena sebagian dari hartanya
merupakan milik orang lain. NA RIYA ISON
Tulisan ini dimuat di Tabloid Gema Baiturrahman, 11 September 2015, sebagai pariwara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar