Selasa, 15 September 2015

Abdul Mutalib Nasabah Sukses Baitul Qiradh Baiturrahman

ADALAH Abdul Mutalib (35). Sosok nasabah sukses Baitul Qiradh Baiturrahman. Biar pun ia seorang yatim sejak usia 3 bulan, semangatnya untuk mengubah hidup sudah tertanam dalam pribadinya sejak dini. Ia tinggal bersama ibu dan kakak sulungnya, Zubaidah.
Abdul hanyalah lulusan SLTA. Setamat SMA di Meureudu, 1999 langsung mengadu nasib di Banda Aceh. Seorang temannya memiliki toko dan mengajaknya untuk menjadi karyawan.
Sebelum tsunami melanda, Abdul telah mandiri. Ia memiliki tempat berdagang perhiasan imitasi di emperan atau kaki lima di Pasar Aceh. Sampai akhirnya semua usahanya, tersapu tsunami.
Namun tsunami tak mampu menyapu semangatnya. Kali ini, Abdul nama yang biasa dipanggil, mengincar lokasi yang dianggap ramai, di Neusu Jaya. Tahun 2007 ia kembali melirik Pasar Aceh yang telah kembali menjadi pusat perdagangan dan ramai pembeli
Hanya sebentar di Pasar Aceh, usahanya kembali tergusur bersama ratusan pedagang lainnya ke Pasar SMEP Peunayong. Karena keadaan tidak sesuai yang diharapkan, Abdul memilih kembali ke kampung halaman. Modal yang ada dibawa serta. “Saya membangun rumah untuk ibu yang sudah tua,” katanya. Ia tengah berduka, karena belum lama ini ibunya, Sapiah meninggal dunia.
Disebabkan keadaan, tempat usaha Talib selalu berpindah-pindah. Pria kelahiran Meureudu, 5 Januari 1980 ini mendapatkan lokasi strategis di Jl. Chik Pante Kulu tepatnya di Gg. Hongli Pasar Aceh. Di saat inilah ia mulai menjadi mitra dan menangguk manfaat adanya Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB).
Seorang rekan seangkatan semasa SMA, Fikri ternyata adalah seorang karyawan BQB yang berpusat di Komplek Masjid Raya Baiturrahman. Melalui Fikri, ia mendapatkan pinjaman ringan dari BQB. “Saya mendapatkan pinjaman bagi hasil sebesar Rp. 10 juta,” kenang Talib.
Usahanya berkah dan terus berkembang. Nalurinya sebagai pedagang juga melirik ke Pasar Aceh Baru yang mulai dibuka. “Saya meminjam kembali dari Baitul Qiradh Baiturrahman sebanyak Rp. 20 juta untuk tambah modal. Sementara uang pribadi saya pergunakan untuk sewa toko,” tambah suami dari Syukriyah ini.
Usahanya diberi nama “Bang Toyib Mode”, terletak di Lantai 3 Pasar Aceh Baru. “Saat itu begitu ramai pembeli, saya mesti menambah toko,” ujar ayah dari dari Syidran Malisi (4,3 th) dan Siti Zakira (2,2 th) ini. Karenanya ia sempat menyewa beberapa toko yang berdekatan. Usahanya pada setiap toko menjual asesoris perhiasan imitasi. Juga menjual tas dompet, tali pinggang.
Melalui peran BQB Abdul menemukan adanya kemudahan sehingga ia senantiasa bertumpu harapan pada lembaga simpan pinjam berbasis syariah ini. “Baitul Qiradh Baiturrahman mempermudah nasabah dalam proses pengajuan pinjaman. Apabila setoran tertunda tidak dipermasalahkan,” ungkapnya.
Selain itu yang membuatnya terbantu adalah, petugas BQB setia menjemput setoran atau cicilan harian ke nasabah langsung. Namun, ia berharap, “Hendaknya lembaga simpan pinjam ini dapat meringankan bagi hasil agar pedagang kecil lainnya dapat terbantu dalam pengembangan usaha.” Menurutnya, bank konvensional saat ini seolah berlomba menurunkan bunga guna membantu nasabah, khususnya kalangan usaha ekonomi lemah. Seharusnya BQB juga peduli membantu usaha perekonomian umat, tambahnya.
Usahanya kini kembali meredup. Peruntukan setiap lantai Pasar Aceh Baru pada awalnya berdasarkan pengelompokan jenis barang kebutuhan, ternyata belakangan mulai bercampur. Di lantai dasar atau lantai 2 pasar, juga dijual pakaian, assesoris. “Pembeli tentu kerepotan bila mesti melangkah ke lantai 3,” kilah mantan Humas Asosiasi Pedagang Aceh Baru (Aspedab) ini. Seharusnya pengelola pasar bersikap tegas dan kembali menertibkan para pedagang sesuai ketentuan semula. Terlebih, Pasar Aceh Baru II telah hadir guna membagi pembeli untuk berbelanja.
Ia tetap bersyukur karena Bang Toyib Mode tetap eksis. Abdul atau Talib berbelanja langsung ke Tanah Abang Jakarta untuk berburu celana dan pakaian muslim, batik, kemeja maupun sporty yang tengah mode. Demikian juga kios kaki limanya, tetap mendapatkan pelanggan tersendiri.
Sebagai wujud syukur, tetap ia menjalankan kewajiban berzakat, karena sebagian dari hartanya merupakan milik orang lain. NA RIYA ISON

Tulisan ini dimuat di Tabloid Gema Baiturrahman, 11 September 2015, sebagai pariwara 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar