Baitul Qiradh Baiturrahman
Selasa, 15 November 2016
BQ Baiturrahman Studi Banding ke Yogyakarta
SEJUMLAH
pengelola KSU Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB) melakukan studi banding untuk
sharing pengalaman dalam pengelolaan keuangan berbasis syariah ke BMT Bina
Ihsanul Fikri (BIF) Yogyakarta, 3 - 6 November 2016. Rombongan disambut dengan
kekeluargaan oleh Direktur BIF Muhammad Ridwan SE, MA dan Manager Supriadi.
Selain pertemuan di kantor BIF, beberapa pengelola BQB juga bekesempatan meninjau
langsung ke beberapa nasabah di pasar setempat.
Tujuan kunjungan menurut Direktur
BQB Eko Wahyudi, SE adalah untuk menimba pengalaman dan belajar manajemen keuangan,
administrasi termasuk marketing sehingga akan berdampak positip dalam
pengelolaan BQB ke depan.
Basri A. Bakar, mewakili Pengurus
yang ikut dalam rombongan tersebut menjelaskan kepada pengurus BIF Yogya
tentang sejarah ringkas BQB yang diresmikan pertama kali oleh BJ Habibie selaku
ketua umum ICMI pada 8 Juli 1995.
Dalam perjalanannya, BQB ikut terkena
ekses tsunami 2004 dengan kerugian hampir 100 juta. Namun setahun setelah tsunami,
berkat suntikan dana dari Baznas melalui ibu Wakil Presiden Hj. Mufida Jusuf Kalla, BQB
mampu bangkit kembali melayani pembiayaan bagi masyarakat ekonomi lemah.
Saat ini KSU Syariah Baiturahman telah
memiliki tiga kantor yakni Masjid Raya Baiturrahman (kantor pusat) dan dua cabang
(Ulee Karengdan Sukadamai). Jumlah nasabah hingga tahun 2016 tercatat 5.663
orang dengan jumlah simpanan Rp 8 milyar lebih. (basri)
Rabu, 30 September 2015
Dek Amdi Bahagia, Pengusaha Isi Ulang dan Gas
Cicilan Lunas Sebelum Jatuh Tempo
Baitul Qiradh
Baiturrahman (BQB) 2 Oktober 2015 genap berumur 20 tahun. Dalam
perjalanan waktu yang cukup panjang, banyak perkembangan dicapai lembaga simpan
pinjam syariah ini. Beberapa wiraswastawan pun turut merasakan berkah kemajuan
yang dicapai lembaga keuangan berbasis masjid ini. BQB tidak hanya memberikan
modal, tapi juga bertanggungjawab memajukan usaha nasabah.
Dek Amdi Bahagia
misalnya, turut merasakan andil besar BQB
dalam mengembangkan usaha yang dirintisnya. Pengalamannya sebagai pebisnis
pemula, menunggu kios kecil milik keluarga sepulang sekolah sewaktu SLTA, tidak
saja perlu nyali menjadi “pengusaha” sebagaimana cita-citanya. Sumber modal,
adalah alasan klasik menyurutkan semangat memulai usaha. Ia pun meyakini BQB
dapat melempangkan rintisan usahanya.
“Dengan sikap ramah dan upaya cari informasi,
saya memberanikan diri untuk meminjam modal pada Baitul Qiradh Baiturrahman,”
kilah Bahagia.
Januari 2008 kali
pertama Pimpinan CV Jiranah,
Jl T Syarief Thayeb Nomor 3A Lambhuk ini
mengajukan pinjaman Rp 5 juta pada BQB Cabang Ulee Kareng, Banda Aceh. Pinjaman dengan jaminan
sertifikat tanah itu digunakan sebagai uang muka memulai usaha depot air isi
ulang.
Dengan naluri bisnis ia
mengambil keputusan pada waktu yang tepat. Dalam tempo singkat, usahanya terus
bertambah. Kemudian, dengan memakai label perusahaan yang sama, usaha bisnisnya
sebagai agen minyak tanah dan tabung gas elpiji dilakoninya. Abangnya, Yusriadi sebagai manajer keuangan
turut berperan dalam memajukan CV Jiranah ini.
Merasa perekonomiannya
makin mapan, pebisnis yang hanya jebolan SLTA ini mengakhiri masa lajangnya
tahun 2009. Seorang gadis yang masih tetangganya, Siti Maisarah disunting
menjadi isterinya. Dari buah perkawinan itu, lahirlah M Syahruk Malik (4 th)
dan M Arif Naqfi (2 th).
Usahanya terus
berkembang. Bahkan, ia memberanikan diri menjadi pemasok sayuran segar bagi
sebuah super market di pusat kota Banda Aceh. Untuk mempermudah mengangkut pesanan
pelanggan, tiga kendaraan jenis pick up dan sebuah becak angkut dibelinya.
“Saya selalu yakin, modal bisanya jadi kendala dapat diatasi dengan adanya Baitul
Qiradh Baiturrahman,” kata putra ketiga pasangan HM Yusuf Yacob - Hj Fauziah
ini. Dengan armada transportasi multi guna itu, pelanggan merasa dimanjakan dan
terpuaskan, karena kebutuhan seperti air isi ulang, tabung gas dan pesanan
lainnya dapat diantar ke tempat.
BQB selama ini
memberikan kepercayaan penuh kepada nasabah setia, mumpuni dan amanah. Pinjaman
pernah diberikan mencapai Rp 70 juta untuk pengembangan usaha milik Bahagia.
“Alhamdulillah cicilan berhasil saya lunasi sebelum jatuh tempo,” jelasnya.
Kini pinjaman dengan
besaran yang sama diajukan untuk membeli mesin FW, penyaringan membran dan
housing sebanyak 2 unit. Berkah terus saja mengalir bagi nasabah setia BQB,
semoga. (NA Riya Ison)
Selasa, 15 September 2015
Abdul Mutalib Nasabah Sukses Baitul Qiradh Baiturrahman
ADALAH Abdul Mutalib
(35). Sosok nasabah sukses Baitul Qiradh Baiturrahman. Biar pun ia seorang
yatim sejak usia 3 bulan, semangatnya untuk mengubah hidup sudah tertanam dalam
pribadinya sejak dini. Ia tinggal bersama ibu dan kakak sulungnya, Zubaidah.
Abdul hanyalah lulusan
SLTA. Setamat SMA di Meureudu, 1999 langsung mengadu nasib di Banda Aceh.
Seorang temannya memiliki toko dan mengajaknya untuk menjadi karyawan.
Sebelum tsunami
melanda, Abdul telah mandiri. Ia memiliki tempat berdagang perhiasan imitasi di
emperan atau kaki lima di Pasar Aceh. Sampai akhirnya semua usahanya, tersapu
tsunami.
Namun tsunami tak
mampu menyapu semangatnya. Kali ini, Abdul nama yang biasa dipanggil, mengincar
lokasi yang dianggap ramai, di Neusu Jaya. Tahun 2007 ia kembali melirik Pasar
Aceh yang telah kembali menjadi pusat perdagangan dan ramai pembeli
Hanya sebentar di
Pasar Aceh, usahanya kembali tergusur bersama ratusan pedagang lainnya ke Pasar
SMEP Peunayong. Karena keadaan tidak sesuai yang diharapkan, Abdul memilih kembali
ke kampung halaman. Modal yang ada dibawa serta. “Saya membangun rumah untuk
ibu yang sudah tua,” katanya. Ia tengah berduka, karena belum lama ini ibunya,
Sapiah meninggal dunia.
Disebabkan keadaan,
tempat usaha Talib selalu berpindah-pindah. Pria kelahiran Meureudu, 5 Januari
1980 ini mendapatkan lokasi strategis di Jl. Chik Pante Kulu tepatnya di Gg.
Hongli Pasar Aceh. Di saat inilah ia mulai menjadi mitra dan menangguk manfaat
adanya Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB).
Seorang rekan
seangkatan semasa SMA, Fikri ternyata adalah seorang karyawan BQB yang berpusat
di Komplek Masjid Raya Baiturrahman. Melalui Fikri, ia mendapatkan pinjaman
ringan dari BQB. “Saya mendapatkan pinjaman bagi hasil sebesar Rp. 10 juta,”
kenang Talib.
Usahanya berkah dan
terus berkembang. Nalurinya sebagai pedagang juga melirik ke Pasar Aceh Baru
yang mulai dibuka. “Saya meminjam kembali dari Baitul Qiradh Baiturrahman
sebanyak Rp. 20 juta untuk tambah modal. Sementara uang pribadi saya pergunakan
untuk sewa toko,” tambah suami dari Syukriyah ini.
Usahanya diberi nama
“Bang Toyib Mode”, terletak di Lantai 3 Pasar Aceh Baru. “Saat itu begitu ramai
pembeli, saya mesti menambah toko,” ujar ayah dari dari Syidran Malisi (4,3 th)
dan Siti Zakira (2,2 th) ini. Karenanya ia sempat menyewa beberapa toko yang
berdekatan. Usahanya pada setiap toko menjual asesoris perhiasan imitasi. Juga
menjual tas dompet, tali pinggang.
Melalui peran BQB
Abdul menemukan adanya kemudahan sehingga ia senantiasa bertumpu harapan pada
lembaga simpan pinjam berbasis syariah ini. “Baitul Qiradh Baiturrahman
mempermudah nasabah dalam proses pengajuan pinjaman. Apabila setoran tertunda
tidak dipermasalahkan,” ungkapnya.
Selain itu yang
membuatnya terbantu adalah, petugas BQB setia menjemput setoran atau cicilan harian
ke nasabah langsung. Namun, ia berharap, “Hendaknya lembaga simpan pinjam ini
dapat meringankan bagi hasil agar pedagang kecil lainnya dapat terbantu dalam
pengembangan usaha.” Menurutnya, bank konvensional saat ini seolah berlomba
menurunkan bunga guna membantu nasabah, khususnya kalangan usaha ekonomi lemah.
Seharusnya BQB juga peduli membantu usaha perekonomian umat, tambahnya.
Usahanya kini kembali
meredup. Peruntukan setiap lantai Pasar Aceh Baru pada awalnya berdasarkan
pengelompokan jenis barang kebutuhan, ternyata belakangan mulai bercampur. Di
lantai dasar atau lantai 2 pasar, juga dijual pakaian, assesoris. “Pembeli
tentu kerepotan bila mesti melangkah ke lantai 3,” kilah mantan Humas Asosiasi
Pedagang Aceh Baru (Aspedab) ini. Seharusnya pengelola pasar bersikap tegas dan
kembali menertibkan para pedagang sesuai ketentuan semula. Terlebih, Pasar Aceh
Baru II telah hadir guna membagi pembeli untuk berbelanja.
Ia tetap bersyukur
karena Bang Toyib Mode tetap eksis. Abdul atau Talib berbelanja langsung ke
Tanah Abang Jakarta untuk berburu celana dan pakaian muslim, batik, kemeja
maupun sporty yang tengah mode. Demikian juga kios kaki limanya, tetap
mendapatkan pelanggan tersendiri.
Sebagai wujud syukur,
tetap ia menjalankan kewajiban berzakat, karena sebagian dari hartanya
merupakan milik orang lain. NA RIYA ISON
Tulisan ini dimuat di Tabloid Gema Baiturrahman, 11 September 2015, sebagai pariwara
Selasa, 08 September 2015
Belajar Wirausaha
Oleh Sayed Muhammad Husen
Awal kisah seorang aktivis belajar wirausaha dengan mengikuti pelatihan dan magang BMT (Baitul Mal Wat Tamwil) di Jakarta. Aktivis Islam ini lebih banyak belajar politik dalam setiap jenjang pelatihan yang diikutinya. Akibatnya, dia menjadi kritikus pemerintah ketika itu. Setiap kebijakan Orba Soeharto yang tak berpihak kepada kepentingan Islam dan ummatnya, tak luput dari hujatannya. Dia membaca banyak buku dan kitab fikih politik.
Dalam pelatihan dan magang BMT itu, dia mendapat data dan informasi yang tak permah dibacanya selama ini. Para pemateri menyajikan kebijakan ekonomi, pengelolaan dana, muamalah Islam, pertarungan kaum mata sipit dalam bisnis, hingga kondisi utang negeri ini pada negara donor. Ada diskusi topik kapitalisme, sosialisme dan konsep ekonomi Islam. Dia seakan “diprovokasi” supaya percaya diri dan yakin potensi ekonomi ummat Islam.
Akhirnya sang aktivis memulai bisnis pengelolaan dana ummat melalui BMT. Mengurangi membaca buku politik dan menggantinya dengan buku ekonomi dan perbankan Islam. Mengikuti pengajian dan kajian muamalah. Mendalami profil Rasulullah Muhammad SAW sebagai pedagang, membaca cerita sukses khadijah RA berbisnis dan ketangguhan Abdurrahman bin Auf mengusai pasar. Dia juga berlangganan media ekonomi dan bisnis.
Satu lagi: sang aktivis berinteraksi dan “belajar” banyak dari pedagang mikro di pasar tradisional. Menggali pengalaman jatuh bangun pedagang sayur-sayuran dan buah-buahan. Menimba pengalaman bangkit pedagang kaki lima. Dia juga memperluas pergaulan atau jaringan dengan konsultan usaha mikro, karyawan perbankan syariah dan koperasi simpan pinjam syariah. Bahkan, dia secara diam-diam mengenali “mafia” produk tertentu di pasar dan keuletan rentenir memengaruhi calon pelanggan.
Akhirnya, setelah perjalanan waktu sekitar tiga tahun, sang aktivis benar-benar menjadi orang ekonomi dari sebelumnya pengagum dunia politik. Dia telah menguasai praktek bisnis sosial micro finance syariah. Dia hidup --dalam artian-- mendapat gaji sebagai profesional di bidang ini. Dia pun memutuskan menikah, karena yakin telah mampu membiayai keluarga.
Demikian kisah sang aktivis belajar bisnis. Tentu banyak kisah lain, yang kita yakin menjadi inspirasi bagi yang ingin memperbaiki nasib melalui jalur wirausaha. Karena itu, ayo belajar wirausaha dari dunia nyata.
Baitul Qiradh Belajar ke Malaysia
Lembaga Keuangan Syariah Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB) melakukan serangkaian studi banding ke Malaysia untuk menambah ilmu dengan cara belajar langsung dari yayasan atau lembaga keuangan berbasis syariah di negara jiran itu. "Kunjungan BQB ke Malaysia selama tujuh hari mulai 14 sampai 21 September 2012 tersebut, salah satu bentuk kegiatan menambah ilmu pengurus BQB," kata Sekretaris Pengurus BQB, Basri A Bakar, Selasa (25/9/2012) di Banda Aceh.
Basri menjelaskan, kegiatan itu difasilitasi Dewan Pemuda Masjid Malaysia dan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). Selama di negeri jiran, BQB yang terdiri dari pengurus dan pengelola berjumlah 13 orang mengunjungi beberapa lembaga seperti Yayasan Pembangunan Ekonomi Islam Malaysia (YaPEIM), Lembaga Pegadaian Emas Ar Rahnu, Amanah Ikhtiar Malaysia (AIM), JAKIM dan Institut Latihan Islam Malaysia (ILIM).
Rombongan juga sempat berkunjung ke beberapa masjid ternama seperti Masjid Putra Jaya, Masjid Tuanku Zainal, Masjid Negara dan Masjid Wilayah, termasuk beberapa masjid di Singapura. Mewakili pengurus ikut hadir Ketua Zardan Araby dan Sekretaris Basri A Bakar.
Sementara Direktur BQB, Maulida Lailiana mengharapkan, dengan adanya kunjungan tersebut dapat memberikan motivasi dan meningkatkan kinerja karyawan BQB.
Dikatakannya, BQB sudah lama berdiri yakni sejak tahun 1995, namun baru kali ini bisa melakukan studi banding ke luar negeri. "Kami memperoleh wawasan yang ilmu cukup bermanfaat dari lembaga yang kami kunjungi, semoga dapat diadopsi bagi kemajuan BQB di masa mendatang," ujarnya.
Ia menyatakan, dari hasil kunjungan tersebut, beberapa lembaga seperti YaPEIM dan AIM sepakat akan menjalin kerja sama di bidang pengembangan ekonomi syariah, termasuk JAKIM dalam bentuk training manajemen dan ekonomi Islam.
"Mereka berjanji akan melakukan kunjungan balasan ke Aceh dalam waktu dekat sambil menjajaki peluang kerja sama," sebutnya.
Saat ini, BQB memiliki satu kantor induk bertempat di komplek Masjid Raya Baiturrahman dan dua kantor cabang masing-masing di Ulee Kareng dan Sukadamai, dengan kegiatan simpan pinjam sistem bagi hasil berbasis syariah, kepada masyarakat ekonomi menengah ke bawah.(dedi irawan)
Sumber: http://medanbisnisdaily.com/news/arsip/read/2012/09/26/92703/baitul_qiradh_baiturrahman_belajar_manajemen_ke_malaysia/#.VcrWLlJiQdo
Basri menjelaskan, kegiatan itu difasilitasi Dewan Pemuda Masjid Malaysia dan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). Selama di negeri jiran, BQB yang terdiri dari pengurus dan pengelola berjumlah 13 orang mengunjungi beberapa lembaga seperti Yayasan Pembangunan Ekonomi Islam Malaysia (YaPEIM), Lembaga Pegadaian Emas Ar Rahnu, Amanah Ikhtiar Malaysia (AIM), JAKIM dan Institut Latihan Islam Malaysia (ILIM).
Rombongan juga sempat berkunjung ke beberapa masjid ternama seperti Masjid Putra Jaya, Masjid Tuanku Zainal, Masjid Negara dan Masjid Wilayah, termasuk beberapa masjid di Singapura. Mewakili pengurus ikut hadir Ketua Zardan Araby dan Sekretaris Basri A Bakar.
Sementara Direktur BQB, Maulida Lailiana mengharapkan, dengan adanya kunjungan tersebut dapat memberikan motivasi dan meningkatkan kinerja karyawan BQB.
Dikatakannya, BQB sudah lama berdiri yakni sejak tahun 1995, namun baru kali ini bisa melakukan studi banding ke luar negeri. "Kami memperoleh wawasan yang ilmu cukup bermanfaat dari lembaga yang kami kunjungi, semoga dapat diadopsi bagi kemajuan BQB di masa mendatang," ujarnya.
Ia menyatakan, dari hasil kunjungan tersebut, beberapa lembaga seperti YaPEIM dan AIM sepakat akan menjalin kerja sama di bidang pengembangan ekonomi syariah, termasuk JAKIM dalam bentuk training manajemen dan ekonomi Islam.
"Mereka berjanji akan melakukan kunjungan balasan ke Aceh dalam waktu dekat sambil menjajaki peluang kerja sama," sebutnya.
Saat ini, BQB memiliki satu kantor induk bertempat di komplek Masjid Raya Baiturrahman dan dua kantor cabang masing-masing di Ulee Kareng dan Sukadamai, dengan kegiatan simpan pinjam sistem bagi hasil berbasis syariah, kepada masyarakat ekonomi menengah ke bawah.(dedi irawan)
Sumber: http://medanbisnisdaily.com/news/arsip/read/2012/09/26/92703/baitul_qiradh_baiturrahman_belajar_manajemen_ke_malaysia/#.VcrWLlJiQdo
Tiga Keunggulan Baitul Qiradh Baiturrahman
Oleh Sayed Muhammad Husen
Letak atau lokasi kantor BQ di Masjid Raya Baiturahman adalah keunggulan pertama. Masyarakat beranggapan, pengelola BQB adalah sekaligus pengurus masjid. BQB identik dengan masjid. Mereka meyakini, miniatur bank Islam ini dikelola dengan amanah. Dana yang mereka simpan sebagai tabungan tak akan hilang. Tak ada korupsi. Akibatnya, lahirlah kepercayaan masyarakat terhadap manajemen BQB.
Demikian pula pihak manajemen, mereka menjaga idialisme dengan baik, karena mereka memang bekerja di lingkungan masjid. Lokasi mana lagi tidak melakukan maksiat selain di masjid. Prilaku pengurus dan pengelola lebih terkontrol. Ibadah mereka, misalnya shalat berjamaah dhuhur dan ashar lebih disiplin dan berjamaah. Mereka pun tahu, bekerja di masjid tak mungkin mengejar cepat kaya.
Keunggulan kedua, BQB adalah generasi pertama BQ di Aceh. Diresmikan bersamaan 50 BQ lainnya se Aceh oleh Prof DR BJ Habibie dalam kapasitas sebagai Menristek dan Ketua Umum ICMI Pusat. Sebagian besar pengelola BQ se Aceh belajar dan magang di BQ ini. BQB juga menjadi referensi bagi banyak kalangan di Aceh yang peduli terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat. Banyak pula yang memberi harapan terhadap eksistensi amal usaha masjid ini.
Ketiga, semua personil pengelola bisa bertahan dan tetap bekerja hingga memasuki usia BQB tahun ke 14. Dengan kesabaran itu, mereka menjadi direktur dan kepala-kepala cabang. Mereka benar-benar telah berpengalaman di bidang micro finance. Merasakan masa-masa sulit dan dapat pula menikmati era kemapanan lembaga keuangan bentukan ICMI ini. Mereka menjadi asset SDM BQB.
Dengan keunggulan itu, BQB berhasil mendapatkan “lirikan” banyak pihak untuk bermitra. Hal ini dapat dibuktikan dari pihak-pihak yang telah membantu dan bekerja sama dengan BQB, dari lembaga pemerintah hingga lembaga internasional. Saya sebutkan di sini misalnya: Dinas Koperasi, Baznas, ILO, PT Bisma, PT PNM, GTZ, Bank Muamalat, MercyCorp, PT PLN, PT Taspen, PT Pertamina dan beberapa yang lain.
Tantangan BQB berikutnya adalah, mampukah LKM Mikro Syariah ini menghadapi tantangan zaman? Karena itu, nasihat saya: teruslah memperkuat SDM pengelola, menambah modal jumlah sendiri, memantapkan sektor riil dan menjaga efesiensi. Jangan mubazir. Tidak serakah. Jangan pula ria akibat kesuksesaan. Tidak melupakan misi utama BQ sebagai pemberdaya ekonomi ummat.
Sebagai salah seorang pendiri, sungguh, saya tak ingin melihat BQB terjebak dalam skenario saitan, yang senantiasa menggoda kita supaya maksiat dalam bermuamalah. Semoga Allah swt meridhai amal sosil kita ini. Amien ya Rabb.
Langganan:
Postingan (Atom)
